Limbah Tahu Cair Menjadi Biogas
January 15, 2009 by Boy Macklin
Filed under: Creativity, Lingkungan, Supply Chain Management, Tek. Pengelolaan Limbah
Filed under: Creativity, Lingkungan, Supply Chain Management, Tek. Pengelolaan Limbah
Info lanjut Klik pada gambar
Tahu
adalah salah satu makanan tradisional yang biasa dikonsumsi setiap hari oleh
orang Indonesia. Proses produksi tahu menhasilkan 2 jenis limbah, limbah padat
dan limbah cairan. Pada umumnya, limbah padat dimanfaatkan sebagai pakan
ternak, sedangkan limbah cair dibuang langsung ke lingkungan. Limbah cair
pabrik tahu ini memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Tanpa proses
penanganan dengan baik, limbah tahu menyebabkan dampak negatif seperti polusi
air, sumber penyakit, bau tidak sedap, meningkatkan pertumbuhan nyamuk, dan
menurunkan estetika lingkungan sekitar.
Banyak
pabrik tahu skala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki proses pengolahan
limbah cair. Ketidakinginan pemilik pabrik tahu untuk mengolah limbah cairnya
disebabkan karena kompleks dan tidak efisiennya proses pengolahan limbah,
ditambah lagi menghasilkan nilai tambah. Padahal, limbah cair pabrik tahu
memiliki kandungan senyawa organik tinggi yang memiliki potensi untuk
menghasilkan biogas melalui proses an-aerobik. Pada umumnya, biogas mengandung
50-80% metana, CO2, H2S dan sedikit air, yang bisa dijadikan sebagai pengganti
minyak tanah atau LPG. Dengan mengkonversi limbah cair pabrik tahu menjadi
biogas, pemilik pabrik tahu tidak hanya berkontribusi dalam menjaga lingkungan
tetapi juga meningkatkan pendapatannya dengan mengurangi konsumsi bahan bakar
pada proses pembuatan tahu.
Bahan
baku yaitu dali limbah tahu cair menjadi Biogas
Sebagian
besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan
kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut air dadih. Cairan ini
mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai. Limbah cair ini
sering dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga
menghasilkan bau busuk dan mencemari sungai. Sumber limbah cair lainnya berasal
dari pencucian kedelai, pencucian peralatan proses, pencucian lantai dan
pemasakan serta larutan bekas rendaman kedelai. Jumlah limbah cair yang
dihasilkan oleh industri pembuat tahu kira-kira 15-20 l/kg bahan baku kedelai,
sedangkan bahan pencemarnya kira-kira untuk TSS sebesar 30 kg/kg bahan baku
kedelai, BOD 65 g/kg bahan baku kedelai dan COD 130 g/kg bahan baku kedelai
(EMDI & BAPEDAL, 1994).
Pada
industri tempe, sebagian besar limbah cair yang dihasilkan berasal dari lokasi
pemasakan kedelai, pencucian kedelai, peralatan proses dan lantai. Karakter
limbah cair yang dihasilkan berupa bahan organik padatan tersuspensi (kulit,
selaput lendir dan bahan organik lain).
Industri
pembuatan tahu dan tempe harus berhati-hati dalam program kebersihan pabrik dan
pemeliharaan peralatan yang baik karena secara langsung hal tersebut dapat
mengurangi kandungan bahan protein dan organik yang terbawa dalam limbah cair.
Proses produksi
2.
Penerapan Prinsip 3R pada Proses Pengolahan Limbah Tahu
·
Reduce :
1.
Pengolahan Limbah Secara Fisika
Pada
umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan
agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau
bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening)
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang
berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses
pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di
dalam bak pengendap.
2.
Pengolahan Limbah Secara Kimia
Pengolahan
air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat,
senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia
tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya
berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat
diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau
tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi
oksidasi.
3.
Pengolahan Limbah Secara Biologi
Semua
air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan
sekunder, pengolahan secara nbiologi dipandang sebagai pengolahan yang paling
murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode
pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.
Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1.
Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2.
Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Di
dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang
dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung
dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai
modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai
beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90%
(dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain
efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan
yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses
kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses
absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD
tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.
·
Reuse :
Limbah
yang dihasilkan dari proses pembuatan tahu dapat digunakan sebagai alternatif
pakan ternak. Hal tersebut dilakukan karena dalam ampas tahu terdapat kandungan
gizi. Yaitu, protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92
persen), abu (17,03 persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43
persen). Salah satu alasannya, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan,
khususnya perairan.
·
Recycle :
Larutan
bekas pemasakan dan perendaman dapat didaur ulang kembali dan digunakan sebagai
air pencucian awal kedelai. Perlakuan hati-hati juga dilakukan pada gumpalan
tahu yang terbentuk dilakukan seefisien mungkin untuk mencegah protein yang
terbawa dalam air dadih.
3.
Materi
Perombakan
(degradasi) limbah cair organik akan menghasilkan gas metana, karbondioksida
dan gas-gas lain serta air. Perombakan tersebut dapat berlangsung secara
aerobik maupun anaerobik. Pada proses aerobik limbah cair kontak dengan udara,
sebaliknya pada kondisi anaerobik limbah cair tidak kontak dengan udara luar.
Biasanya
biogas dibuat dari limbah peternakan yaitu kotoran hewan ternak maupun sisa
makanan ternak, namun pada prinsipnya biogas dapat juga dibuat dari limbah
cair. Biogas sebenarnya adalah gas metana (CH4). Gas metana bersifat
tidak berbau, tidak berwarna dan sangat mudah terbakar. Pada umumnya di alam
tidak berbentuk sebagai gas murni namun campuran gas lain yaitu metana sebesar
65%, karbondioksida 30%, hidrogen disulfida sebanyak 1% dan gas-gas lain dalam
jumlah yang sangat kecil. Biogas sebanyak 1000 ft3 (28,32 m3)
mempunyai nilai pembakaran yang sama dengan 6,4 galon (1 US gallon = 3,785
liter) butana atau 5,2 gallon gasolin (bensin) atau 4,6 gallon minyak diesel.
Untuk memasak pada rumah tangga dengan 4-5 anggota keluarga cukup 150 ft3
per hari.
Proses
dekomposisi limbah cair menjadi biogas memerlukan waktu sekitar 8-10 hari.
Proses dekomposisi melibatkan beberapa mikroorganisme baik bakteri maupun
jamur, antara lain :
a.
Bakteri selulolitik
Bakteri
selulolitik bertugas mencerna selulosa menjadi gula. Produk akhir yang
dihasilkan akan mengalami perbedaan tergantung dari proses yang digunakan. Pada
proses aerob dekomposisi limbah cair akan menghasilkan karbondioksida, air dan
panas, sedangkan pada proses anaerobik produk akhirnya berupa karbondioksida,
etanol dan panas.
b.
Bakteri pembentuk asam
Bakteri
pembentuk asam bertugas membentuk asam-asam organik seperti asam-asam butirat,
propionat, laktat, asetat dan alkohol dari subtansi-subtansi polimer kompleks
seperti protein, lemak dan karbohidrat. Proses ini memerlukan suasana yang
anaerob. Tahap perombakan ini adalah tahap pertama dalam pembentukan biogas
atau sering disebut tahap asidogenik.
c.
Bakteri pembentuk metana
Golongan
bakteri ini aktif merombak asetat menjadi gas metana dan karbondioksida. Tahap
ini disebut metanogenik yang membutuhkan suasana yang anaerob, pH tidak boleh
terlalu asam karena dapat mematikan bakteri metanogenik.
4.
Biaya:
- Biaya Langsung
-
Biaya bahan baku : Kacang Kedelai, mikroorganisme atau bakteri pendukung proses
pengolahan
- Biaya tidak Langsung : upah pekerja, perawatan peralatan.
5.
Energi
Penggunaan
limbah tahu cair sebagai bahan baku pembuatan biogas memanfaatkan bahan-bahan
yang dapat diperbaharui seperti penggunaan bakteri atau mikroorganisme pada
proses pengolahannya. Sehingga pada proses pengolahan tersebut dapat mengemat
energi.
5.
Produk Baru
Produk
yang dihasilkan dari pengolahan limbah tahu cair adalah biogas. Bio gas sangat
bermanfaat bagi alat kebutuhan rumah tangga/kebutuhan sehari-hari, misalnya
sebagai bahan bakar kompor (untuk memasak), lampu, penghangat ruangan/gasolec,
suplai bahan bakar mesin diesel, untuk pengelasan (memotong besi), dan
lain-lain. Sedangkan manfaat bagi lingkungan adalah dengan proses fermentasi
oleh bakteri anaerob (Bakteri Methan) tingkat pengurangan pencemaran lingkungan
dengan parameter BOD dan COD akan berkurang sampai dengan 98% dan air limbah
telah memenuhi standard baku mutu pemerintah sehingga layak di buang ke sungai.
Bio gas secara tidak langsung juga bermanfaat dalam penghematan energi yang
berasal dari alam, khususnya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui
(minyak bumi) sehingga sumber daya alam tersebut akan lebih hemat dalam
penggunaannya dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar